BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

Senin, 15 Februari 2010

CerpEn...

My aunt My mother....

“Ibu….Bu…mau kemana? Nata ikut….Nata gak mau sendiri!”

“Cihhh….aku bukan Ibu mu!”

“Nggak mungkin! Pokoknya aku mau ikut Ibu!!”

“JANGAN PERNAH PANGGIL AKU IBU!!” bentak wanita itu lalu meninggalkan ku sendiri…sendirian…..

“Ibu………” teriaakku sambil menangis.

Waktu kecil aku sering banget mimpi kayak gitu, dan tiap aku bangun pasti air mataku udah ngalir begitu aja, Ibu ku pasti langsung menenangkanku dan menyuruhku tidur lagi. Aku gak pernah tau sebenarnya apa maksud mimpiku itu dan aku juga gak tau siapa wanita yang ada dalam mimpiku itu.

Sekarang aku gak pernah mimpi kayak gitu lagi, mungkin karena aku udah cukup gede dan aku berfikir kalo semua itu cuma bunga tidur aja.

“Ta…Nata….beresin kamar tamu. Tadi kamu kan yang ngobrak – abrik kamar tamu!” teriak ibu ku membangunkanku dari lamunanku tentang mimpi masa kecilku.

“Ha….eh iya Bu bentar!” jawabku lalu kembali memusatkan perhatianku pada acara TV kesukaanku.

Tiba – tiba KLIK…Ibu ku langsung mematikan TV…

“Ibu, apa – apa’an sih? Aku kan lagi nonton TV! Ntar aku beresin deh!!!” kataku mencoba protes.

“Ntar? Ntar kapan? Tiap hari kerjaannya ngobrak – abrik ruangan, gak pernah diberesin lagi!”

“Iya…bentar lagi Bu!” jawabku mencoba sabar.

“Kamu kan yang ngobrak – abrik Ruang tamu dan kamar Ibu? Sebenarnya apa sih yang kamu cari Ta?”

“Aku gak nyari apa – apa. Aku cuma sering penasaran aja!” jawabku enteng.

“Sekarang cepat bereskan kamar tamu, setelah itu kamar ibu, dan kamar kamu juga! Jadi cewek kok gak bisa ngatur kamarnya sendiri!”

“Iya Bu!” jawabku pasrah lalu segera membereskan kamar tamu.

Setelah selesai membereskan kamar tamu aku segera membereskan kamar ibuku. Tiba – tiba aku menemukan selembar kertas fotocopyan yang sudah kusam…kucel, dan hampir tak terlihat apa yang tertera di kertas jelek itu. Tapi aku coba membaca kertas itu….dan ternyata kertas itu berisi……………..

“Ta...udah belum beresin kamar ibu?” teriak ibuku tiba - tiba

“I..Iya Bu…Udah kok!!” jawabku singkat lalu menuju kamarku tak lupa kertas kusam itu juga aku bawa.

Aku hanya bisa memandang kertas itu. Disitu tertera namaku ‘REINATA RISDITYA’ anak dari ‘REINARDA JULIANY’ Tante ku sendiri, kenapa selama ini aku gak menyadari bahwa memang ada kemiripan antara namaku ( REINATA ) dan nama tante ku ( REINARDA)?? Kenapa aku baru menyadari saat ini??

Aku jadi inget, nenekku sering bilang kalo aku ma tante Arda memang mirip, tetanggaku juga bilang kalau wajah kami mirip. Bodoh…bodoh…kenapa aku baru menyadari dan menemukan kertas ini sekarang???

Aku segera mengusap air mataku dan aku keluar mencari ibuku.

“Bu, tante Arda tu udah punya anak?” tanyaku pelan.

“Ya udah lah, kamu kan waktu itu ikut nengok tantemu. Masa kamu lupa?” tanya ibuku bingung

“Oh..iya ya! Anaknya udah 2 ya Bu?” tanyaku lagi

“Dua gimana? Tante Arda kan baru punya satu anak, si Reivalia itu. Kamu ini kenapa sih?”

‘Trus aku siapa Bu?’ teriak ku dalam hati.

“Oh..iya ya? Ya udah deh Bu aku mau maen dulu!” kataku sambil mencoba tersenyum lalu pergi

Tanpa terasa air mata ku udah mengalir lagi….Tuhan kenapa sih Tante Arda, ibuku sendiri gak mau ngakuin aku sebagai anaknya? Jadi….mimpiku waktu masih kecil itu emang kenyataan? Jadi wanita yang ada dalam mimpiku itu tante Arda, Ibu kandungku sendiri???

Aku segera pergi menuju rumah nenekku. Tapi justru tante Arda ada di sana, kucoba biasa aja dan menahan air mataku.

“Eh ada Nata, masuk Ta!” sapa tante ku seperti biasanya. Aku hanya tersenyum walaupun dengan terpaksa.

“Kok sendirian Ta?” tanya Nenekku

“Iya! Cuma mau maen aja kok Nek!”

Ternyata tante ku juga ma Iva, sesaat aku memandang Iva dan sekali lagi aku menyadari bahwa wajahku juga mirip ma Iva.

“Wah..aku ma Iva tu mirip ya?” kataku dengan garing. Aku menyadari pandangan aneh dari Nenek dan tanteku.

“Kamu ini gimana sih Ta? Namanya juga saudara ya miriplah!” jawab tanteku sambil tersenyum tanpa tampang berdosa!!

“Dulu waktu pertama kali Om Didik liat kamu dia bilang,”Dia anak kamu ya Da?” jelas aja tante Arda tertawa.” kata Nenekku.

“Lho emang kenapa Nek?”

“Katanya kamu ma tante Arda tu mirip banget!”

“Lho emang kaya gitu kan Nek?”

“Kaya gitu gimana?” tanya Nenekku dan tante Arda hampir bersamaan.

“Kenapa sih kalian harus nyembunyiin semua ini? Kenapa ibuku sendiri…IBU KANDUNGKU gak mau ngakuin aku?” tanyaku dengan agak emosi

“Maksud kamu apa sih Ta?” tanya tante ku bingung

Lalu aku segera mengeluarkan selembar kertas kusam yang aku temukan di kamar ibuku.

“Apa arti semua ini Nek? Apa tante?” bentakku

“Itu bukan apa – apa Ta!”

“Bukan apa- apa? Aku udah gede Nek, aku udah bisa baca semua tulisan ini, dan aku juga udah bisa mikir apa artinya tulisan ini!!” bentakku.

“Pasti ibu kamu yang ngasih tau kan?” tanya tante Arda.

“Tante gak usah nyalahin ibu Nata! Yang salah tu tante! Kenapa tante ngasih kan aku ma saudara tante sendiri? Kenapa tante gak pernah ngakuin Nata sebagai anak tante?” bentakku kepada tante Arda yang sebenarnya adalah ibu kandungku sendiri.

“Kamu gak tau masalah tante mu saat itu Ta!” jawab Nenekku

“Masalah? Masalah apa Nek?” bentakku dengan air mata yang terus mengalir.

“Kamu udah lahir duluan sebelum tantemu nikah!”

Tuhan…apa arti kata – kata Nenekku ini? Jadi aku hanya anak haram?? Air mataku benar – benar gak bisa berhenti, apalagi mendengar kata – kata Nenekku barusan.

“Jadi aku anak haram Nek?” tanyaku pelan sambil mencoba tersenyum…

“Nata……..” teriak Ibu ku tiba – tiba lalu memelukku.

“Ta, maaf’in Ibu, Ibu gak bermaksud bohong ma kamu!”

“Hahaha….aku anak haram…anak haram Bu!! Eh…aku harus panggil apa ya? Ibu, Tante, Ibu tiri atau apa ya hah?” tanyaku sambil tersenyum tapi air mataku tetep aja mengalir.

“Ta..kamu ngomong apa sih?? Aku tetep Ibu kamu Nata!” kata Ibu ku pelan.

“CIHHH……..aku anak haram!!” bentakku dan semuanya terasa menjadi gelap…

“Nata….maaf’in Ibu ya! Ibu gak bermaksud membuangmu gitu aja!”

Aku hanya diem aja, bingung apa yang harus aku lakukan.

“Ta…ibu akan menebus semua kesalahan Ibu! Gimana caranya supaya kamu bisa maafin Ibu Ta?”

“Tante?! Oh…cuma mimpi ya?! Lho ini udah di kamar ya Bu?” tanyaku bingung.

“Iya, tadi kamu pingsan, udah istirahat aja Ta! Maaf ya, Ibu juga gak pernah ngasih tau hal ini sebelumnya dan tentang mimpi kamu waktu kecil, mungkin itu semua ada hubungannya dengan ibu kandungmu tante Arda!” kata Ibu ku pelan.

Aku hanya diam aja, aku bingung apa yang harus aku katakan dan apa yang harus aku lakukan. Uhh….sialan kenapa sih air mataku mengalir lagi dan lagi....

“Ta, tante Arda tu gak bermaksud jahat ma kamu!” kata Ibu ku tiba – tiba

“Trus apa maksud tante? Cuma mau membuang aku tapi waktu itu Ibu kasihan ma aku kan?”

“Nata, kamu gak tau keadaan keluarga kami waktu itu! Tante Arda udah melahirkan kamu, sedangkan dia belum menikah…….”

“Bilang aja, tante Arda takut kalo gak ada cowok yang mau ma tante Arda!” kataku sinis

“Nata, kamu jangan……”

“Bu, aku tau Ibu pasti belain tante Arda, karna tante Arda itu saudara Ibu kan?!” bentakku lalu beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan Ibuku

“Ta, dengarkan Ibu dulu!” bentak Ibuku sambil menarik tanganku

“Apa Bu? Aku harus gimana Bu? Semua udah jelaskan, aku hanya anak angkat, bahkan anak haram Bu!” kataku lemas.

“Nata, selama ini kamu juga merasakan kasih sayang dari Ibu kan? Walaupun Ibu bukan Ibu kandung kamu! Selama16 tahun ini kamu juga merasa kan bagaimana punya keluarga kan? Kak Vella juga sayang ma kamu seperti dia sayang ma adiknya sendiri walaupun Kak Vella tau kamu bukan adiknya!”

“Tapi Bu, kenapa tante Arda gak mau ngakin aku sebagai anaknya? Kenapa tante Arda gak pernah nunjukin kasih sayang seperti ‘Ibu’ ke aku? Kenapa Bu?” bentakku sambil terus menangis.

“Nata…bagaimanapun juga tante Arda adalah ibu kandungmu! Dia yang melahirkanmu dan dia yang mempertaruhkan nyawanya untuk mu!” kata Ibuku mencoba sabar

“Tapi sebenarnya tante Arda tidak menghendaki kelahiranku Bu!”

“Tapi kenyataannya kita semua menghendaki kelahiranmu Ta! Nyatanya Ibu juga mau merawat kamu, Nenek juga perhatian banget ma kamu kan Ta?!”

Aku hanya diam aja, aku bingung apa yang harus aku katakan lagi dan aku juga bingung apa yang harus aku lakukan, tapi yang jelas air mataku terus mengalir tanpa henti…

“Ta…maafin tante Arda selama ini ya!” kata tante Arda yang yang ternyata udah ada di belakangku. Aku hanya memandang tante Arda.

“Nata… kamu udah gede, pasti kamu juga udah tau alasan kenapa tante Arda gak mau merawat kamu!”

“Nata..maafin ibu ya!” kata tante Arda lagi. Aku masih tetap diam aja, dan air mataku tetap mengalir.

“Kalo kamu memang belum bisa memaafkan Ibu juga gak papa! Tapi yang harus kamu tau, Ibu juga sayang banget ma kamu, seperti Ibu sayang ma Iva!” kata tante Arda lalu pergi.

“Tante…Nata benci!!”

Tante Arda lalu memandangku dan tiba – tiba aja air mata tante Arda mengalir. Aku baru sekali ini melihat tanteku menangis.

“Nata benci kenapa Nata juga masih sayang ma tante Arda!” kataku masih tetap menangis. Lalu tante Arda memelukku seperti seorang Ibu….

“Nata…sekali lagi maafin Ibu ya!”

Aku hanya mengangguk pelan sambil mencoba tersenyum walaupun sebenernya aku masih nangis. Nangis antara benci, terharu dan seneng…..

Ternyata perasaan sayangku ma Ibu kandungku juga nggak mati walaupun setelah 16 tahun aku baru menyadari orang tua kandungku….

Sekarang aku sedikit lega, tidak ada lagi yang mengganjal dalam hatiku! Dan mungkin kebiasaan ku mengobrak – abrik ruangan akan berhenti mulai saat ini, karna aku udah menemukan apa yang sebenarnya aku cari selama ini.

0 komentar: